STOP sogok atau Backingan untuk masuk sekolah ikatan dinas

STOP sogok menyogok atau Backingan untuk masuk sekolah ikatan dinas

Sekolah kedinasan merupakan salah satu tujuan para pelajar melanjutkan pendidikan setelah lulus dari SMA. Peminat sekolah kedinasan terus meningkat, ini dapat dilihat dari perbedaan yang jelas antara jumlah pendaftar dengan kuota penerimaan dari sekolah ikatan dinas tersebut.
Baca : Jumlah saingan Pendaftar sekolah ikatan dinas tahun 2017/2018

Sekolah ikatan dinas mempunyai kelebihan ketimbang perguruan tinggi negeri atau swasta. Kelebihan yang tampak jelas adalah dibiayai oleh Negara dan langsung bekerja. Ditulisan sebelumnya sudah dijelaskan “Apa keuntungan masuk sekolah kedinasan dan daftar sekolah kedinasan terbaik”.

Ada banyak sekolah ikatan dinas seperti AKPOL, AKMIL, AAL, AAU, IPDN, POLTEKIP, POLTEKIM, STAN, STIS, STMKG, STPI, STSN, STTD dan masih banyak lagi sekolah kedinasan yang berada dibawah naungan Kementerian/Lembaga/Badan yang ada di INDONESIA.

Untuk masuk kedalam sekolah kedinasan tersebut tidak mudah, karena harus melalui serangkaian tes seleksi yang panjang dan memerlukan perjuangan yang ekstra. Seleksi yang diadakan merupakan standarisasi kelayakan untuk masuk kedalam sekolah ikatan dinas tersebut. apabila pendaftar dinyatakan memenuhi persyaratan maka peserta itu akan dinyatakan lulus. apabila ia dinyatakan tidak memenuhi standar, maka ia tidak lulus.

Disamping itu ada sebagian orang atau kata kasarnya “Oknum” yang menghalalkan berbagai cara untuk dapat masuk kedalam sekolah kedinasan tersebut, yaitu dengan cara Sogok menyogok atau backingan orang yang berpengaruh dalam seleksi tersebut.


Apa itu SOGOK dan BACKINGAN masuk sekolah kedinasan?

Sudah menjadi kisah lama dan mendarah daging kasus sogok menyogok dan backingan untuk masuk kedalam perguruan tinggi kedinasan / ikatan dinas. Berbagai macam cara sudah dilakukan agar cerita lama ini dapat dihilangkan namun hingga saat ini masih saja banyak ditemukan kasus seperti ini.

Saya rasa semua orang sudah tau sogok itu apa, namun saya akan menjelaskan kembali artian dari sogok-menyogok dan backingan dalam kasus ini.

➤ Sogok / suap adalah salah satu cara untuk mempermudah calon pendaftar agar dapat lulus dari berbagai tes seleksi. Sogok ini dapat berupa uang, benda, atau perjanjian dari orang yang memerlukan bantuan (Calon peserta) dengan orang yang terlibat. 

➤ Sedangkan Backingan adalah orang yang berpengaruh dalam proses penerimaan taruna baru sekolah ikatan dinas tersebut. backingan juga terkadang menerima sogokan atau masih dalam hubungan keluarga (Nepotisme). Oknum ini pada umumnya mempunyai jabatan yang tinggi sehingga dapat mempengaruhi kebijakan penerimaan seleksi calon peserta didik sekolah kedinasan tersebut.

STOP Sogok menyogok dan backingan dalam penerimaan sekolah ikatan dinas

“Proses tidak menghianati hasil”
Begitu pribahasa lama yang hingga sampai saat ini masih dipakai. Lulus atau tidak lulus tergantung dari sejauh mana kerja keras yang dilakukan agar dapat memperolah hasil yang memuaskan. Persaingan sehat dan adil merupakan dambaan banyak orang.

Seperti yang kita ketahui bahwa sekolah ikatan dinas dibiayai oleh Negara, “dari ujung kaki hingga ujung rambut”, yang artinya anda adalah anak NEGARA. Negara memerlukan kader yang berpotensi, yang mampu, dan bertekat tinggi. Apabila ketika baru seleksi saja sudah menggunakan suap atau backingan apakah tidak malu?

Mungkin dipikiran anda yang penting saya masuk, lulus dan dapat membanggakan diri anda kepada orang terdekat, namun cara itukan bisa diperoleh melalui persaingan secara sehat dan adil?
Dengan menggunakan sogokan atau backingan untuk masuk sekolah ikatan dinas, ada sebagian orang yang telah berusaha keras dengan keringatnya agar lulus namun tersingkirkan oleh Oknum yang menggunakan cara tidak sehat tersebut.

Saya ambil contoh penerimaan suatu kedinasan X dengan kuota 15 orang dan mereka “peserta” yang mengikuti seleksi tersebut sudah lulus hingga ketahap akhir, namun karena ada sebagian oknum peserta yang menggunakan sogokan atau backingan sehingga diantara 15 orang tersebut ada yang tersingkirkan atau tergantikan dengan nama oknum tersebut.

STOP sogok menyogok dan menggunakan backingan, karena dengan cara tersebut akan merebut hak orang lain yang telah berusaha secara adil. Apabila ingin mencapai sesuatu yang berharga, berusahalah dengan jujur dan adil. Karena sesuatu yang diperoleh atas kemampuan dan usaha anda sendiri akan lebih berharga (termasuk dari Allah dan doa orang tua).

Saran untuk ditindaklanjuti

Proses seleksi yang sehat dan adil adalah dambaan setiap peserta, untuk itu perlunya perketat setiap lini agar tidak terjadi celah. Dengan sistim penerimaan yang terbaru berbasis online diharapkan dapat memperkecil tindakan kecurangan dalam proses seleksi penerimaan calon peserta baru.

Setiap panitia seleksi yang dianggap mencurigakan dalam proses seleksi diharapkan dapat diperiksa dan apabila terbukti melakukan tindakan kecurangan agar diberhentikan dari jabatannya. Panitia seleksi diharapkan jangan pernah menerima suap atau sogokan dari calon peserta dengan imbalan uang dengan nominal yang sulit ditolak. Kejujuran adalah segalanya.

Para peserta seleksi jangan menerima tawaran dari orang yang dapat menjanjikan anda agar lulus dari seleksi dengan membayar sejumlah uang. Bukannya lulus malahan rugi yang didapat karena merasa tertipu dengan oknum tersebut.

Bangun mental yang kuat dalam jiwa anda bahwa anda mampu, jangan persulit orang lain agar anda bisa lulus seleksi tersebut. apabila anda menemukan ada orang yang menggunakan sogokan atau backingan, segera laporkan kepada panitia agar dapat diproses. Sekarang ini adalah era keterbukaan dimana transparansilah yang dijunjung tinggi. Dengan menyertakan bukti yang kuat, anda dapat melaporkan kepada pihak yang bersangkutan ataupun dengan kekuatan media masa dapat mengungkapkan sindikat oknum yang melakukan kecurangan tersebut. mungkin hanya itu tulisan yang berjudul STOP sogok menyogok dan backingan masuk sekolah kedinasan. Silahkan anda berkomentar dengan sopan dikolom komentar.

Previous
Next Post »