September 13, 2016

Sejarah Revolusi mental dan Mengapa Harus ada di IPDN?

IPDN (institut Pemerintahan Dalam Negeri) adalah salah satu lembaga pendidikan kepamongprajaan dibawah naungan Kementrian dalam Negeri (Kemendagri). IPDN juga sangat menekankan revolusi mental sebagai dasar dalam bekerja serta menjadi pelopor penggerak revolusi mental. Pasti kamu masih bingung apa itu revolusi mental? Revolusi mental adalah gerakan seluruh rakyat Indonesia bersama Pemerintah untuk memperbaiki karakter bangsa menjadi Indonesia yang lebih baik. Dan juga mengapa harus ada di IPDN? Jawabannya adalah karena IPDN mencetak kader-kader pamong praja yang professional, mandiri, dan kreatif. Lulusan IPDN yang saya ketahui akan kembali ke daerah pendaftarannya dan siap “menularkan” karakter tersebut kepada seluruh birokrasi pemerintahan dan masyarakat dimana ia ditempatkan.

Revolusi mental bermula dari ajakan Presiden Indonesia kita Bapak Joko Widodo untuk mengangkat kembali karakter bangsa yang mulai bobrok alias pemalas. Gerakan ini diharapkan akan terus menyebar hingga kalangan terkecil sekalipun. Revolusi mental pada mulanya didukung oleh tokoh nasional diantaranya Birokrasi pemerintah, dunia usaha, tokoh agama, akademisi, seniman, budayawan, dan masih banyak lagi. Hasil survey internasional, data transparansi menunjukan presepsi tentang tingkat korupsi disektor public dari 177 negara, Negara Indonesia berada di rangking 114 ini dibawah Ethiopia dengan posisi 111.

Kembali lagi mengapa Revolusi mental harus terjadi di IPDN?
IPDN merupakan proyeksi atau gambaran Indonesia yang terkumpul dalam suatu wadah lembaga, singkatnya INDONESIA KECIL lah. IPDN tersebut membuka pendaftaran melalui masing-masing kabupaten/ kota disetiap provinsi, jadi jangan heran kalau melihat mereka bisa banyak mengenal karakter dari masing-masing daerah lain dan juga hubungan antara lulusannya bisa sangat erat se- Indonesia. Praja atau sebutan kader tersebut dikumpulkan di kampus pusat yang berada di jatinangor sumedang, jawa barat. Kampusnya juga sangat luas dan bersih dari sampah, entah apa yang mereka kerjakan disana sehingga bisa terjaga.
Lanjut lagi, ada beberapa nilai dasar yang perlu ditanamkan kepada praja IPDN menyangkut Penggerak Revolusi Mental, diantaranya:
  • Dapat Dipercaya

Anti memberi dan menerima suap
  • Profesional

Cepat tanggap, tepat waktu, dan tidak menunda pekerjaan
  • Kreatif

Melakukan inovasi melalui pelatihan
  • Saling menghargai

Sopan santun, menerima perbedaan, anti kekerasan dan diskriminasi, serta kasih sayang
  • Gotong royong

Tolong menolong, kerjasama, dan kerelawanan
(revolusimental.go.id)

Dengan adanya nilai-nilai tersebut diharapkan praja bisa mempunyai karakter yang siap bekerja dan berinovasi. Jadi jangan heran jika para lulusan ipdn saya katakana sukses-sukses semua, rata-rata mereka sudah menduduki posisi penting di pemerintahannya. Lalu bagaimana jika ipdn di bubarkan? Saya telah mendengar mengenai pembubaran ipdn. Menurut saya tidak semudah itu ipdn dapat dibubarkan, Karena IPDN merupakan salah satu pancetak pemimpin ahli dibidang pemerintahan daerah dan pusat. Banyak daerah-daerah yang baru melakukan pemekaran membutuhkan tenaga dan keahlian mereka, oleh sebab itu steatment yang mengatakan buat apa ada ipdn, itu saya akui salah besar.

Praja ipdn setiap tahunnya melaksanakan Praktek lapangan dimana salah satu dari tri tunggal terpusat (pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan), yaitu pelatihan di terapkan selama sebulan dimana mereka ditempatkan sesuai pembagiannya. Dengan cara itu maka para praja tersebut akan mengajak seluruh birokrat daerah untuk melakukan revolusi mental. Dengan begitu akan berdampak sangat positif bagi daerah dimana mereka akan ditempatkan. Pelayan yang baik merupakan pelayan yang dapat melayani masyarakat tanpa mengeluh dan meminta imbalan. Pernyataan tersebut memang cukup “idealis” tapi memang seluruh birokrasi dituntut untuk mempunyai sifat yang seperti itu.

Pertanyaan tambahan, Apakah pendaftaran IPDN murni? Saya berpendapat pendaftaran di IPDN dapat dikatakan 95% murni dan transparan. Kok gak 100? Ya mungkin adalah 5% nya kongkalikong keluarga. Pendaftarannya saya telusuri dan bertanya-tanya secara online. Segala bentuk data langsung dikirim ke pusat dan tes TKD nya melalui standart PNS yaitu CAT melalui computer. Pernah saya membaca ada praja yang berhasil masuk padahal kedua orangtuanya tidak bisa melihat, orang tuanya bekerja sebagai tukang pijit. Batapa bangganya kedua orangtuanya mendengar bahwa anaknya bisa lulus tes ipdn bukan? Mungkin itu alasan mengapa ipdn ditunjuk sebagai kampus revolusi mental? Dan beberapa pertanyaan untuk menjawab apa yang ada dibenak anda. 


EmoticonEmoticon